RESENSI FILM NGERI-NGERI SEDAP
Identitas
Film ini berawal dengan sepasang suami istri Pak Domu (Arswendy Beningswara Nasution) dan Mak Domu (Tika Panggabean) yang selalu memperlihatkan hubungan keluarga mereka yang harmonis. Padahal kenyataannya sangat berbanding terbalik dengan hal tersebut. Pak Domu selaku Kepala Keluarga bermasalah dengan ketiga anak laki-lakinya. Domu si sulung menemukan gadis Sunda di perantauannya dan hendak menikahinya. Namun, Pak Domu tak merestuinya karena Pak Domu menganggap orang luar tak bisa mengerti Adat Batak. Anak ketiganya, Gabe. Gabe awalnya kuliah di Jurusan Hukum, namun banting setir menjadi pelawak di acara TV. Pak Domu menyuruh Gabe berhenti menjadi pelawak dan menyuruhnya menjadi Jaksa atau Pengacara saja. Tetapi, Gabe ingin menjadi pelawak saja. Anak bungsunya, Sahat lebih memilih menjaga Pak Pomo dibanding menjaga Orangtuanya. Padahal, dalam Adat Batak, Anak Bungsu tidak merantau dan menjaga orangtuanya di kampung halaman. Untunglah ada Sarma, anak kedua Pak Domu dan Mak Domu yang bersedia menjadi PNS dan menjaga orangtuanya. Dikarenakan rasa rindu dan menjelang pesta syukuran khas Batak, Pak Domu dan Mak Domu menyuruh anak-anaknya pulang. Namun, Domu, Gabe dan Sahat enggan pulang kerumah karena bermasalah dengan Pak Domu. Pak Domu dan Mak Domu pun membuat skenario ingin cerai supaya anak-anaknya mau pulang. Sesuai ekspetasi, mereka pun pulang walaupun hanya sementara.
Sehari setelah acara tersebut selesai, Pak Domu memarahi Domu, Gabe, dan Sahat karena tidak ingin mengikuti kemauannya. Anak-anak sepakat bahwa jika masih tidak ada ujung, mereka akan pulang ke tempatnya masing-masing. Pak Domu lalu memulai sebuah argumen yang membuat semuanya, termasuk Mak Domu, marah atas partriarki-nya. Mak Domu pun membocorkan rahasia bahwa skenario perceraian itu palsu, dan bahwa Sarma telah mengetahui ini. Sarma mengatakan ia merasa tertekan harus selalu mengikuti perintah orangtua. Mak Domu mengatakan ia benar-benar ingin cerai. Ia pun pergi ke rumah ibunya, sementara anak-anak pulang, kecuali Sahat karena perintah neneknya dan Pak Pomo.
Pak Domu curhat pada ibunya bahwa ia cuma mengikuti cara ayahnya. Ibunya mengatakan bahwa tiap keluarga berbeda dan cara memimpinnya juga harus berbeda. Pak Domu pun menjemput Mak Domu dengan keluarganya di rumah ibunya Mak Domu. Namun Mak Domu mengatakan ia mau pulang jika dijemput Pak Domu dan anak-anaknya. Pak Domu lalu menemui anak-anaknya dan belajar berbagai hal. Calon istri Domu ternyata bisa belajar adat Batak, rekan-rekan Gabe adalah orang-orang yang pengertian, dan Pak Pomo mengatakan bahwa Sahat sangat membantu di desa. Pak Domu pun membawa semuanya pulang, mengingat perintah Mak Domu. Mereka sekeluarga pun berjamu bersama.
Kelebihan
Ngeri-Ngeri Sedap berhasil memainkan perasaan penontonnya, dari tertawa hingga terharu. Adegan yang terdap kegembiraan dan ketawa selalu datang di waktu yang pas sehingga tak menggangu suasana saat konflik sedang terjadi. Adegan komedi di Film ini benar-benar lucu, bukan yang dipaksa lucu. Komedi yang ada di film ini juga tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga membantu menghidupkan cerita dengan berbagai nuansa.
Tema Batak dalam film ini bukan semata-mata untuk mempromosikan saja. Alur cerita, latar tempat, dan soundtracknya semuanya bertema Batak. Aktor dan Aktris yang memainkan film Ngeri-Ngeri Sedap merupakan orang suku Batak asli sehingga logatnya terasa seperti orang Batak pada umumnya.
Film "Ngeri-Ngeri Sedap" mengajarkan banyak pelajaran hidup. Film ini menekankan tanggung jawab orangtua meskipun orangtua harus menjaga anak-anaknya, anak-anak juga memiliki hak untuk memilih jalan hidup mereka sendiri ketika mereka dewasa.
Kekurangan
Emosi kadang-kadang dianggap kurang. Domu, Gabe, dan Sahat yang merasa terkhianati terlihat kurang emosional dan terkesan memaksa saat adegan Sarma menunjukkan bahwa dia telah mengetahui semua kebohongan yang dilakukan Pak Domu dan Mak Domu sejak awal. Suara yang sedih terasa jelas seperti adegan dalam film. Namun, akting menyayat hati Sarma menyelamatkan adegan tersebut.
Terdapat istilah dalam bahasa Batak seperti, lapo, pahompu, nangtulang, dll yang tidak diberi terjemahan. Masyarakat Indonesia yang lain mungkin tidak memahami arti istilah-istilah tersebut, meskipun penulis, pemain film, dan masyarakat Batak memahaminya.

Komentar
Posting Komentar